Langsung ke konten utama

Review Novel Di Tanah Lada - Ziggy Z.

Sudah siapkah kalian untuk menjelajahi kekayaan imajinasi dari seorang anak kecil berusia 6 dan 10 tahun yang disajikan oleh salah satu penulis hebat dan terkenal asal Indonesia, Ziggy Z? Mari kita mulai perjalanan kita dan temukan apa yang menanti di balik halaman-halaman buku ini.


PROFIL BUKU

Title: Di Tanah Lada

Author: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Genre: Fiction, Family, Slice Of Life, Drama, Contemporary, Childrens

Format: 244 pages, Paperback

Published: October 19, 2015 by Gramedia Pustaka Utama


SINOPSIS

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

REVIEW

Di Tanah Lada, novel yang menghadirkan kisah kelam dan menyedihkan yang dialami dua orang anak kecil, yaitu Ava dan P. Alih-alih mendapatkan kasih sayang layaknya anak-anak pada umumnya, mereka justru mendapatkan kekerasan dari sang ayah.

Persamaan latar belakang kisah mereka ini yang mengawali perjalanan mereka berdua. Sebenarnya, cerita yang mengangkat isu kekerasan pada anak memang sudah banyak. Namun, yang membedakan di sini adalah gaya penceritaannya yang menggunakan sudut pandang dari tokoh Ava, yang merupakan seorang anak berusia 6 tahun sehingga membuat ceritanya menjadi enak dibaca dengan gaya bahasanya yang mudah dipahami. Hal ini juga yang membuat kita sebagai pembaca menjadi lebih mudah mendapatkan pesan dan makna dalam cerita.

Sayangnya, ada beberapa hal yang kurang aku suka di sini. Pertama, karakter Ava tampak terlalu cerdas untuk ukuran anak seusianya. Bukan masalah bagaimana anak seusianya sudah mampu berbahasa Indonesia dengan sangat baik dan mengingat segala macam arti yang tertera pada kamus, melainkan bagaimana ia mencari kebahagiaan melalui after-life atau reinkarnasi, dan beberapa hal lainnya. Entahlah, menurutku sedikit kontradiktif melihat bagaimana karakter Ava yang dibangun dengan pemikiran sedemikian cerdas, tapi diceritakan masih belum bisa makan & mandi sendiri. Bagiku itu seperti kurang realistis sih. Yang kedua, aku merasa kurang ada pendalaman karakter dari karakter-karakter lain. Kurasa mungkin beberapa pembaca penasaran apa yang mendasari para ayah mereka berlaku begitu buruk pada anak mereka, kemudian gejolak batin apa yang membuat ibu Ava memilih untuk mempertahankan sang suami meskipun sudah menderita begitu lama, dan lain-lain. Menurutku itu sedikit disayangkan karena kurang dieksplor lebih dalam. Yang ketiga—atau yang terakhir—adalah endingnya. Well, ini TIDAK terhitung spoiler, tapi lagi-lagi aku nggak memahami apa yang dipikirkan anak berusia 6 dan 10 tahun sampai terpikir untuk melakukan "itu". I think the ending isn't supposed to be that dark. Sayang sekali, karena itu malah membuat cerita jadi antiklimaks. Bayangkan, setelah melewati berbagai masalah penuh lika-liku dan hampir menuju ke penyelesaian masalah, ternyata secercah harapan itu dibuang begitu saja. It's not giving anything except losing in faith & hope, and it doesn't make any sense at all. Memang tidak semua cerita harus berakhir bahagia, tapi masalahnya buku ini juga terlalu dipaksakan untuk berakhir gelap di saat penulis punya banyak celah untuk mengakhiri ceritanya dengan bahagia dan lebih memuaskan.

Masalah ending itu memang keputusan penulis, aku menghargai itu. Pembaca memang tidak bisa berbuat banyak dan hanya sebagai penikmat saja. Overall, it was quite an enjoyable ride but could've been better.

Personal rate: 7,8/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Tinta Penulis Besar: Eksplorasi Gaya Penulisan Agatha Christie & Arthur Conan Doyle

Membuka Peti Misteri Gaya Penulisan dengan Analisis yang Mendalam Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle adalah dua penulis novel besar dalam genre fiksi kriminal, di mana Agatha Christie yang banyak dikenal karena cerita misteri dari detektif fiksi bernama Hercule Poirot, sedangkan Sir Arthur yang dikenal karena cerita detektif fiksi Sherlock Holmes. Meskipun beroperasi dalam genre yang sama, keduanya memiliki gaya kepenulisan yang unik dengan ciri khasnya masing-masing. Di kesempatan ini, aku mau mengulas perbedaan gaya penulisan keduanya dari berbagai aspek. Plot Agatha Christie: Dikenal dengan penulisan alurnya yang rumit dan kisah yang penuh kejutan. Menurutku, Christie ini benar-benar piawai dalam membangun twist cerita untuk membingungkan pembaca (in a good sense), sekaligus mengatur sedemikian rupa konflik berkembang di antara berbagai karakter yang memiliki backgroundnya masing-masing.  Arthur Conan Doyle: Sementara Doyle ini penulisan alurnya begitu kompleks dan detail ...