Membuka Peti Misteri Gaya Penulisan dengan Analisis yang Mendalam
Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle adalah dua penulis novel besar dalam genre fiksi kriminal, di mana Agatha Christie yang banyak dikenal karena cerita misteri dari detektif fiksi bernama Hercule Poirot, sedangkan Sir Arthur yang dikenal karena cerita detektif fiksi Sherlock Holmes.
Meskipun beroperasi dalam genre yang sama, keduanya memiliki gaya kepenulisan yang unik dengan ciri khasnya masing-masing.
Di kesempatan ini, aku mau mengulas perbedaan gaya penulisan keduanya dari berbagai aspek.
- Plot
Agatha Christie: Dikenal dengan penulisan alurnya yang rumit dan kisah yang penuh kejutan. Menurutku, Christie ini benar-benar piawai dalam membangun twist cerita untuk membingungkan pembaca (in a good sense), sekaligus mengatur sedemikian rupa konflik berkembang di antara berbagai karakter yang memiliki backgroundnya masing-masing.
Arthur Conan Doyle: Sementara Doyle ini penulisan alurnya begitu kompleks dan detail dalam menggambarkan proses pemecahan konflik dan menyusun teka-teki. Umumnya alur di sini bersifat linear, artinya menghadirkan cerita Holmes dan Watsons dalam memecahkan kasus secara logis dan metodis. - Pendekatan Konflik
Agatha Christie: Lebih menekankan pada plot yang rumit dengan segala probabilitasnya. Ia ahli dalam menyusun teka-teki yang kompleks dengan twist akhir yang mengejutkan pembaca. Fokusnya cenderung lebih pada menyembunyikan informasi yang krusial dari pembaca, sehingga membuat akhir cerita terasa mengejutkan.
Arthur Conan Doyle: Lebih menekankan pada logika deduktif. Ia ahli dalam merangkai detail-detail kecil dalam menggambarkan proses pemecahan kasus. Fokusnya cenderung lebih pada proses analisis Holmes terhadap bukti-bukti yang ia temukan. - Tokoh dan Pendekatan Karakternya
Agatha Christie: Ia menghadirkan berbagai tokoh dengan latar belakang yang berbeda-beda dan kemudian menyatukannya dalam cerita yang saling terkait, yang artinya porsi dari karakter yang terlibat itu seimbang. Seperti yang pembaca tahu, Hercule Poirot ataupun Miss Marple merupakan dua tokoh utama dalam beberapa ceritanya, namun Christie juga memberikan pengembangan secara mendalam pada karakter-karakter lain.
Gaya penulisan Christie ini juga cenderung berfokus pada psikologi karakter, mulai dari kebiasaan, motif, dan tujuan, serta interaksi antar karakternya.
Arthur Conan Doyle: Menghadirkan Sherlock Holmes sebagai pusat cerita yang diperkenalkan sebagai karakter yang logis dan analitik. Ia cenderung berfokus pada penyelesaian kasus dengan segala teka-tekinya, tanpa terlalu melibatkan pendalaman karakter. - Karakter Utama
Pembaca dua seri buku ini pasti tidak asing lagi dengan Hercule Poirot yang merupakan karakter utama yang paling sering muncul dalam novel karya Agatha Christie. Miss Marple juga menjadi salah satu tokoh utama dari beberapa karya besar Agatha Christie. Namun, karena intensitas kemunculan Hercule Poirot yang lebih banyak, maka aku akan lebih berfokus pada pembahasan karakternya di sini.
Sedangkan Sherlock Holmes sendiri merupakan karakter yang sangat fenomenal dari novel karya Arthur Conan Doyle. Untuk menjawab rasa penasaran pembaca, aku akan menjabarkan beberapa perbandingan kedua tokoh tersebut mulai dari karakter, sampai metode yang mereka gunakan dalam menyelesaikan kasus.
Hercule Poirot:Source: Amazon
➣ Ahli dalam permainan trik psikologis manusia,
➣ Mengamati segala sesuatu secara detail,
➣ Menggunakan metode pendekatan psikologis melalui proses interogasi terhadap semua pihak yang sekiranya terlibat dalam kasus, di mana ia menekankan pada pengamatan pola pikir dan perilaku manusia, motivasi, dan psikologi karakter,
➣ Tidak sepenuhnya bergantung pada bukti fisik, melainkan juga insting dari kekuatan otaknya. Ia sering menyebutnya "little grey cells".
Sherlock Holmes:Source: Amazon
➣ Memiliki kecakapan dalam observasi, analisis, dan logika berpikir,
➣ Mengamati segala sesuatu secara mendetail,
➣ Metode yang ia gunakan bisa disebut sebagai deduksi, di mana ia menyingkirkan segala ketidakmungkinan untuk memperoleh kebenaran,
➣ Biasanya hanya berpegang pada bukti fisik.
Dari berbagai ulasan ini tentunya menunjukkan bahwa karya-karya Christie dan Doyle memiliki karakteristik dan daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Misalnya, Christie yang menghadirkan teka-teki kompleks dengan berbagai kemungkinan yang mengarah pada kejutan di akhir cerita, sementara Doyle yang lebih menonjolkan deduksi logis dari Sherlock Holmes.
Jadi, bisa disimpulkan kalau gaya kepenulisan mereka berbeda dalam hal penekanan pada detail-detail kasus, kompleksitas plot, dan fokus pada karakter-karakter dalam cerita misteri mereka.
Tentunya tulisan ini tidak bermaksud untuk menyebutkan kalau gaya penulisan milik penulis A lebih baik daripada penulis B, sama sekali tidak. Semua dikembalikan pada preferensi kita sebagai pembaca dan penikmat.
Semoga postingan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang menyukai kedua penulis ini, atau mungkin bagi yang membutuhkan analisis dari gaya penulisan mereka. Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan pertamaku ini. Sampai jumpa di tulisan-tulisanku selanjutnya!

Komentar
Posting Komentar